INHU – Ada sayur yang nggak butuh waktu lama buat bikin bangga. Namanya kangkung. Jumat, 3 Juli 2026 pukul 10.20 WIB, Bripka Toni.K., Bhabinkamtibmas Desa Petala Bumi dan Sibabat, Polsek Seberida, ngecek langsung rimbunnya kangkung di lahan pekarangan belakang warga Desa Petala Bumi, Kec. Seberida.
Kegiatan ini bagian dari Program Ketahanan Pangan Nasional dengan pendekatan Pemolisian Masyarakat sesuai Perpol No. 1 Tahun 2021. Tujuannya satu: dapur warga nggak kosong meski harga sayur naik.
"Kangkung itu pahlawan dapur. 7 hari tanam, 21 hari sudah panen petik. Airnya sedikit, tempatnya nggak pilih-pilih. Di Petala Bumi ini buktinya, pekarangan belakang rumah bisa jadi warung sayur sendiri," ujar Bripka Toni.K. saat dialog dengan warga pengelola pertanian skala rumah tangga.
Kangkung dipilih karena 3 keunggulan: cepat panen, bisa dipetik berkali-kali dari 1 rumpun, dan disukai semua usia. Dari tumis terasi sampai bening jagung, kangkung selalu ada. Warga juga diajarkan cara tanam sistem potong, biar nggak perlu tanam ulang terus.
Dalam sambang, Bripka Toni.K. beri motivasi: manfaatkan lahan pekarangan yang selama ini kosong. Tanam kangkung, rawat, petik. Lama-lama jadi kebiasaan mandiri pangan tingkat keluarga.
Kapolsek Seberida, Kompol Handono Sujaryanto, http://S.Sos., M.H., menegaskan kangkung adalah pintu masuk termudah menuju ketahanan pangan.
“Program Asta Cita Presiden minta pangan murah, bergizi, terjangkau. Kangkung Petala Bumi jawabannya. Sesuai UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian, dan UU No. 19 Tahun 2013 tentang Pemberdayaan Petani, negara harus hadir sampai ke belakang rumah warga.
Pesan dari Petala Bumi: nggak perlu lahan luas buat ketahanan pangan. Kadang cukup selokan belakang rumah + bibit kangkung = hemat belanja, sehat di meja makan.